Tiga Tahapan Dakwah Kepada Kaum Terpelajar

Tips  
Pengajian di Desa Cibuntu, Kuningan, Jawa Barat (ilustrasi)

Dakwah perlu tahapan. Ibarat sekolah, perlu penjenjangan. Tak mungkin seorang siswa langsung meloncat ke kelas 3 jika ia belum menguasai pelajaran kelas 1 dan 2.

Dakwah juga perlu melihat siapa yang didakwahi. Berdakwah kepada masyarakat awam tentu berbeda dengan berdakwah kepada kaum terpelajar.

Gambaran tentang tahapan dakwah kepada kaum terpelajar terlihat jelas dalam pesan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) kepada salah seorang sahabat dari kaum Anshar bernama Mu'adz bin Jabal ketika hendak mengutusnya berdakwah ke Yaman.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Saat itu, di Yaman banyak ahli Kitab, baik dari kaum Yahudi maupun Nasrani. Mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka kaum berilmu. Otomatis, berdakwah kepada mereka jelas tidak sama dengan berdakwah kepada kaum penyembah berhala.

BACA JUGA: Begini Cara Pemimpin Membuat Keputusan

Mu'adz sendiri termasuk golongan orang-orang yang pertama memeluk Islam. Ia terkenal sebagai cendekiawan Muslim yang menguasai ilmu fiqih. Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa Mu'adz adalah orang yang paling tahu tentang apa yang halal dan apa yang haram.

Di tahun 10 Hijriah, Rasulullah SAW mengutus Mu'adz ke Yaman untuk berdakwah. Rasulullah SAW berpesan kepada Mu'adz soal strategi dan tahapan dakwahnya, sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu ‘Abbas Ra.

Sabda beliau, "Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah hal pertama yang engkau sampaikan kepada mereka ialah syahadat La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah (dalam riwayat lain disebutkan, ‘Sampai mereka mentauhidkan Allah)."

Selanjutnya, Rasulullah SAW meneruskan, "Jika mereka telah menaatimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah Azza wa Jalla mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam."

BACA JUGA: Tujuh Materi Dakwah Menurut al-Muddatsir

Setelah itu, beliau berkata lagi, "Jika mereka telah menaati hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir."

Terakhir, Rasulullah SAW mengingatkan Mu'adz, "Dan jika mereka telah mentaati hal itu, maka jauhkanlah dirimu (jangan mengambil) dari harta terbaik mereka, dan lindungilah dirimu dari doa orang-orang yang teraniaya karena sesungguhnya tidak satu penghalang pun antara doa mereka dan Allah.”

Dari Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim ini kita bisa menyimpulkan tiga tahapan dakwah kepada kaum terpelajar yang belum mendapat hidayah untuk memeluk Islam. Pertama, perbaikilah akidah mereka karena akidah adalah pondasi

Kedua, ajaklah mereka shalat, karena shalat adalah kewajiban paling agung setelah tauhid. Ketiga, ajaklah orang-orang kaya di antara mereka membayar zakat sebagai bentuk rasa syukur dan wujud kebersamaan.

BACA JUGA: Cinta Terindah, Cinta Kepada Allah

Terakhir, Rasulullah SAW mengingatkan Mu’adz agar tidak mengambil harta terbaik dari orang-orang kaya tersebut saat mengambil zakat mereka. Sebab, yang wajib diserahkan adalah harta biasa.

Selain itu, Mu’adz dianjurkan untuk berbuat adil dan jangan berbuat zalim. Sebab, bila mereka dizalimi dan mereka berdoa maka doa-doa orang yang terzalimi tersebut akan Allah Ta'ala kabulkan.

Tata urutan seperti ini tentu tidak berakhir sampai kepada kewajiban berzakat saja. Masih banyak kewajiban lain setelah itu. Misalnya, kewajiban untuk berpuasa, berhaji, berdakwah, dan sebagainya.

Namun, jika tiga kewajiban di atas sudah didakwahkan dan diterima dengan ikhlas maka insya Allah kewajiban-kewajiban yang lain tak akan terlalu sulit.

Wallahu a'lam.

Penulis: Mahladi Murni

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jaga Iman dengan Berbagi Renungan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image