Islamophobia, di Antara Definisi dan Persepsi

Ulasan  
Protres menentang Islamophobia di Eropa (foto: Anadolu Agency)

"Telah ditemukan seorang wanita." Demikian bunyi status sebuah akun twitter pada pertengahan Juli 2022. Dari pengumuman ini kita paham bahwa sebelumnya "wanita" itu telah hilang dan baru saja ditemukan.

"Nama belum diketahui." Bunyi pengumuman itu lagi. "Umur sekitar 4 tahun. Kulit putih."

Kemudian, sang pemilik akun memaparkan ciri-ciri fisik plus pakaian yang dikenakan "wanita" itu, disertai foto seorang anak berwajah imut-imut yang sedang berada di kantor polisi.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

BACA JUGA: Jangan Hina Pendosa, Belum Tentu Kita Lebih Baik Darinya

Status ini banyak ditanggapi oleh netizen. Setidaknya 2.166 akun me-retweet pesan ini. Kebanyakan netizen berucap syukur karena "wanita" yang diberitakan tersebut telah ditemukan.

Namun, beberapa di antara netizen juga protes. Begini beberapa contoh isi protes mereka:

"Mikir banget pas bacanya seorang wanita tapi kok umurnya 4 tahun."

"Ini anak masih balita. Seharusnya dibilang anak perempuan balita karena masih kecil gitu ..."

"Wanita itu perempuan dewasa bambaaaaang ha ha ha ha. Alhamdulillah dah ketemu sama ibunya."

BACA JUGA: Pertolongan Allah Dekat dan Cepat

Terus terang saya juga merasa tertipu sebagaimana para nitizen. Selama ini saya belum pernah mendengar istilah "anak wanita". Yang sering dipakai adalah "anak perempuan"

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wanita adalah perempuan dewasa.

Nah, jika merujuk pada definisi ini, sang bocah yang dimaksud oleh si pemilik akun di atas belum pas jika disebut wanita, melainkan perempuan. Sebab, ia belum dewasa. Usianya baru 4 tahun.

Sederhananya, semua wanita sudah pasti perempuan, namun tidak semua perempuan adalah wanita.

Saya tentu tak ingin membahas lebih jauh soal definisi kata dalam Bahasa Indonesia. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa persepsi seseorang tentang suatu kata bisa saja berbeda dengan definisi kata tersebut.

BACA JUGA: Haji Itu Mengajarkan Taat

Contoh sederhana, jika saya menuliskan kata "Islam" maka apa yang dibayangkan masyarakat? Seharusnya, sebagaimana definisi Islam yang berarti "selamat" (QS al-An’am [6]: 54), atau "damai" (QS al-Anfal [8]: 61), maka yang terbayang tentu bukan sesuatu yang menakutkan.

Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Banyak orang yang takut kepada Islam. Sampai-sampai muncul istilah "islamofobia". Kok bisa?

Ya, itu terjadi karena mereka belum mengerti dan memahami Islam secara utuh. Mereka baru paham Islam setengah-setengah, bahkan mungkin sedikit saja. Sayangnya, pemahaman yang sedikit itu sudah membangun persepsi mereka tentang Islam.

Belakangan muncul kesadaran masyarakat Eropa dan Amerika untuk mengenal Islam secara benar. Hasilnya, terjadilah gelombang mualaf besar-besaran. Di Amerika Serikat bahkan muncul Undang-Undang Anti-Islamofobia.

Ayo belajar Islam secara benar agar persepsi kita tak lagi berbeda dengan definisi. Jangan sampai kelak ada netizen yang bilang: "Kok sama Islam takut sih. Islam itu damai, Bambaaaaaang ha ha ha ha."

Wallahu a'lam.

Penulis: Mahladi Murni

Berita Terkait

Image

Menakar Arti Janggal dan Ganjil

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jaga Iman dengan Berbagi Renungan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image