Peradaban Bukan Sekadar Tempat Tapi Manifestasi Iman

Ulasan  
Ilustrasi Peradaban Islam (gambar: pxhere)

Istilah peradaban Islam sesungguhnya bisa dirunut dari asal kata adab. Dalam Kitab Mujam al-Washit disebutkan bahwa kata adab berasal dari adduba dan taaddaba, yang artinya mendidik seseorang dengan akhlak yang baik.

Jadi, orang yang berilmu, halus tutur katanya, berkesusastraan tinggi, berakhlak mulia, disebut sebagai adib (orang yang beradab). Sebaliknya, orang yang kasar, tidak memiliki sopan santun, tidak berperikemanusiaan, disebut qaliil ul adab (orang yang kurang adab atau tidak beradab)

Namun, dalam bahasa Arab, kata peradaban lebih tepat bila disandingkan dengan kata al-hadharah. Artinya, orang yang memiliki adab yang baik. Lawan katanya adalah al-badawah (Badui) atau orang yang tidak memiliki adab.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Serumpun dengan itu, kata peradaban bisa juga bermakna al-hadhirah, artinya kota. Lawan kata al-hadirah adalah al-badiyah, artinya desa. Kata lainnya adalah al-hadhar, artinya orang kota. Anonimnya, al-badw, artinya orang Badui, atau orang desa.

Orang Badui, dalam komunitas orang-orang Arab, dikenal bersikap keras, kasar, kaku, dan bodoh. Mereka tidak berpendidikan dan tidak bisa baca tulis.

BACA JUGA: Haji Wada' Zainuddin

Tak seorang Rasul pun yang berasal dari kalangan Badwi. Mengapa? Beberapa ahli tafsir memberi argumentasi, di antaranya Imam Ibn Zaid, bahwa penduduk kota (al-hadhar) lebih berpendidikan dan lebih sopan dari pada penduduk Badwi (al-badw).

Bahkan, para ulama berpendapat bahwa hukum menjadi orang Badwi itu makruh. Hukum ini bisa berubah menjadi haram bila orang yang telah hijrah menjadi orang kota kembali menjadi orang Badwi.

Orang-orang Malaysia jarang menggunakan kata "peradaban". Mereka lebih memilih kata tamadun. Sedang orang Turki menyebutnya medeniyet, dan orang Iran menyebutnya tamdun. Tidak ada negara yang menggunakan istilah "peradaban" yang berakar dari kata Bahasa Arab ‘adaba’ selain Indonesia.

Jadi, menilik dari definisi tersebut, hakikat sebuah peradaban bukanlah sekadar tempat atau wilayah. Bukan pula sekadar manusia atau kelompok manusia. Peradaban sesungguhnya lahir dari sesuatu yang bersifat spiritual sehingga ia merupakan manifestasi dari sebuah keyakinan dan ideologi.

Dengan demikian jelaslah bahwa membangun manusia yang beradab bagi kaum Muslim menjadi sebuah keharusan. Ini pula yang dilakukan oleh Muhammad SAW pada masa awal kenabian.

Beliau berdakwah kepada orang-orang terdekatnya, lalu mentarbiyah mereka, sehingga mereka menjadi pribadi yang beriman. Iman inilah yang mengantar mereka menjadi pribadi yang beradab, jauh dibanding sebelumnya ketika mereka masih jahiliah.

Hal yang sama dilakukan oleh Rasulullah SAW saat di Madinah setelah hijrah. Beliau membangun manusia-manusia yang beradab di negeri itu dengan konsep wahyu, konsep yang datang dari Sang Pemilik Kehidupan. ***

Penulis: Mahladi Murni

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jaga Iman dengan Berbagi Renungan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image