Catatan dari Peringatan 12 Tahun Mavi Marmara

Sejarah  
Kapal Mavi Marmara

Pada penghujung Mei 2010 --atau 12 tahun yang lalu-- di Laut Mediterania, ketika hari menjelang subuh, enam kapal kemanusiaan Freedom Flotilla telah hampir sampai ke perairan Gaza, Palestina. Mereka membawa 10 ribu ton bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian, alat sekolah, alat kesehatan, dan alat bangunan.

Selain itu, iring-iringan kapal kemanusia tersebut juga mengangkut sekitar 600 relawan yang berasal dari 32 negara, termasuk Indonesia. Para relawan ini berada di bawah enam lembaga swadaya masyarakat berbendera Turki, Swedia, Yunani, Inggris, dan Amerika Serikat. Mereka terpusat di sebuah kapal bernama Mavi Marmara.

BACA JUGA: Abdul Hamid, Tokoh di Balik Berdirinya Dewan Dakwah

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Para relawan ini terpanggil untuk ikut pelayaran Freedom Flotilla mengantar bantuan ke Gaza karena bersimpati kepada 1,8 juta warga Gaza yang diblokade oleh Zionis Israel sejak empat tahun sebelumnya. Akibat blokade tersebut, Gaza seolah menjadi penjara bagi mereka.

Belum sempat iring-iringan kapal kemanusiaan tersebut masuk ke wilayah perairan Gaza, tiba-tiba mereka dicegat oleh pasukan Zionis Israel. Tak tanggung-tanggung, Zionis Israel mengerahkan 19 speedboat militer, 2 kapal perusak, 2 kapal selam, dan 2 helikopter komando. Padahal, di dalam kapal kemanusiaan itu tak ada senjata sama sekali.

Tak cukup sekadar menghentikan, tentara Zionis juga menembaki para relawan. Sembilan relawan meninggal akibat tembakan tersebut, serta 1 orang meninggal setelah koma selama 3,5 tahun. Sebanyak 50 relawan luka parah dan ringan, termasuk Surya Fachrizal, wartawan Majalah Suara Hidayatullah, yang tertembak di bagian dada dan menyerempet paru-paru.

BACA JUGA: Pak Natsir dan Kerupuk

Serangan berlangsung sejak pukul 04.30 waktu setempat hingga pukul 09.00. Setelah itu, para relawan diborgol, dan dijemur di atap kapal di tengah Laut Mediterania hingga pukul 14.30 waktu setempat.

Pada pukul 17.00, kapal-kapal Freedom Flotilla diseret paksa ke pelabuhan Ashdod, Israel. Para relawan diturunkan dari kapal pada dan diinterogasi hingga pukul 03.00 dini hari. Saat proses interogasi tersebut, sebagian relawan mengalami penyiksaan, pemaksaan tandatangan dokumen palsu, serta pengambilan sidik jari dan retina mata.

Rangkaian kisah ini terungkap pada peringatan 12 Tahun Mavi Marmara yang diselenggarakan oleh Sahabat al-Aqsha, Mavi Marmara Foundation, DPP Hidayatullah, Majalah Suara Hidayatullah, dan Pemuda Hidayatullah, pada Selasa, 31 Mei 2022 di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta.

Hadir dalam acara tersebut Ismail Songur (Ketua Mavi Marmara Foundation), Zainulbahar Noor (Duta Besar Indonesia untuk Jordania saat peristiwa Mavi Marmara), Zuhair Al-Shun (Dubes Palestina untuk Indonesia), Fadli Zon (anggota DPR RI), dan Dr Nashirul Haq (Ketua Umum DPP Hidayatullah). Selain itu hadir juga tiga orang relawan yang ikut kapal Mavi Marmara, yakni Surya Fachrizal, Dzikrullah, dan Santi Sukamto. ***

Penulis: Mahladi Murni

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jaga Iman dengan Berbagi Renungan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image