Melihat dari Dekat Si Manohara dari Cibuntu

Lingkungan  
Ubi Manohara dari Desa Cibuntu

Siapa sangka Manohara banyak dijumpai di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Bahkan, ia menjadi sumber pendapatan sebagian masyarakat. Manohara bisa dijajakan kepada para pendatang atau dijual di pasar-pasar di sekitar desa.

Eiitt, jangan salah! Manohara bukan nama manusia. Manohara adalah nama ubi jalar. Entah mengapa ia dinamakan seperti itu. Saya sendiri sempat bingung saat mengunjungi Cibuntu akhir Februari 2022, seorang ustadz menawarkan Manohara kepada saya.

Awalnya, saya bertanya tentang buah alpukat kepada ustadz tersebut. Cibuntu memang dikenal sebagai penghasil alpukat yang bagus. Namun, saat itu, pohon-pohon alpukat sedang tidak berbuah. Sebagai gantinya, sang ustadz menawarkan Manohara kepada saya.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Siddiq, nama ustadz tersebut, bercerita bahwa ubi Manohara menjadi salah satu produk pertanian andalan di Desa Cibuntu. Kebanyakan masyarakat menanamnya di kebun, atau di lahan garapan.

BACA JUGA: SAR Hidayatullah Terima Penghargaan Potensi Terbaik dari Basarnas

Ukuran ubinya memang tak biasa. Jauh lebih besar dibanding ubi biasa. Daging ubinya tidak lengket dan tidak lunak seperti ubi biasa. Namun, tidak juga semanis ubi cilembu.

Harganya, menurut Siddiq, relatif lebih mahal. Satu kilo bisa mencapai Rp 2.500. Bahkan, konon, di Cirebon, Jawa Barat, para petani pernah mengalihkan fungsi lahan dari bertanam padi menjadi bertanam ubi Manohara. Alasannya sederhana, harga jual lebih menarik. Di Karanganyer, Jawa Tengah, hasil olahan ubi Manohara sampai diekspor ke Korea.

Daun tanaman ubi Manohara biasa dipakai masyarakat untuk pakan kambing. Di Desa Cibuntu memang banyak kambing. "Jumlahnya bisa mencapai 1000 ekor." jelas Siddiq.

Masa tanam ubi Manohara berkisar 6 bulan. Biaya pemeliharaan relatif rendah, tak perlu banyak perawatan.

Hanya saja, tanaman ini butuh air yang cukup. Jika tidak, ubinya rentan busuk dan berlobang. Qadarallah, di Cibuntu, air berlimpah. Posisi desa yang berada di kaki gunung Ciremai menyebabkan air di desa ini, selain banyak, juga bening dan bersih.

Sebenarnya, tak sulit menuju Desa Cibuntu. Anda cukup berkendaraan selama 40 menit dari kota Cirebon, Jawa Barat. Kalau dari Jakarta, diperkirakan berkendara selama 3,5 jam.

Seorang petani sedang membawa daun ubi Manohara untuk pakan ternak

BACA JUGA: Begini Cara Pemimpin Membuat Keputusan

Desa Cibuntu berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Ciremai. Desa ini juga telah dicanangkan sebagai desa wisata sejak tahun 2012. Di sini ada sejumlah obyek wisata alami yang bisa kita lihat. Mulai dari air terjun, situs cagar budaya yang sarat makna, kampung domba, hingga udaranya yang segar dan mata airnya yang dingin.

Jadi, jika Anda mampir ke Desa Cibuntu, selain mentadabburi kebesaran Allah Ta'ala lewat panorama alam yang indah, Anda juga bisa membawa oleh-oleh ubi Manohara. ***

Penulis: Mahladi Murni

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jaga Iman dengan Berbagi Renungan

Mari Mengenal Keong

Pucat Pasi di Tobelo

Berita Tentang Anak dan Etika yang Dilanggar

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image