Ayo Berjamaah, Jangan Sendirian!

Hikmah  
Berjamaah, kita akan kuat.

Pernahkah Anda mendengar nama perkumpulan Asep Sedunia? Coba Anda googling di internet, Anda akan menemukan cerita tentang orang-orang bernama Asep yang berkumpul dalam satu wadah.

Tak sekadar berkumpul, mereka juga membuat gerakan sosial, dan menjadikan wadah tersebut sebagai tempat untuk mengaktualisasi diri.

Belakangan, bukan hanya orang-orang bernama Asep yang berkumpul, ada juga orang-orang bernama Agus yang membentuk wadah serupa. Bahkan sejumlah nama lain mungkin tak mau kalah. Mereka ikut-ikutan membuat gerakan yang sama.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Sejatinya, berkumpul adalah fitrah manusia. Orang-orang yang memiliki kesamaan hobi akan berkumpul membentuk wadah sesuai dengan hobinya. Juga orang-orang yang memiliki kesamaan profesi, akan berkumpul membentuk organisasi sesuai dengan profesinya.

Demikian pula orang-orang yang memiliki kesamaan keadaan, semisal sama-sama menyekolahkan anaknya pada suatu sekolah. Mereka membentuk grup atau perkumpulan.

Orang-orang yang mengelompok ini tak sekadar berkumpul. Mereka juga memilih pemimpin di antara mereka dan membuat aturan main yang disepakati bersama.

Ini membuat mereka semakin solid. Pekerjaan yang berat akan dipikul bersama-sama sehingga terasa ringan. Ada tolong menolong di antara mereka. Yang kuat membantu yang lemah, yang kaya membantu yang miskin.

Jika ada masalah, mereka akan pecahkan bersama-sama. Mereka memang memiliki potensi yang berbeda-beda. Ada yang ahli dalam satu urusan, namun tidak ahli dalam urusan yang lain. Namun, ketika potensi itu disatukan, maka masalah apa pun yang timbul, bisa mereka temukan solusinya secara bersama-sama. Ini yang tak akan didapati bila mereka bergerak sendiri-sendiri.

Jika untuk urusan dunia, manusia kemudian berkumpul dan mengelompok, bagaimana pula untuk urusan akhirat? Seharusnya mereka juga berkumpul, tidak sendiri-sendiri. Sebab, perkara akhirat bukan perkara mudah, sementara tujuan yang hendak dicapai cuma satu, yakni menggapai ridho Allah dan mendapat ganjaran surga.

Bukankah bila kita hendak menempuh jalan yang panjang akan terasa lebih ringan bila dilewati bersama-sama? Hidup di dunia adalah jalan yang panjang. Di sana ada banyak sekali rintangan, bahkan juga jebakan. Di sana juga ada musuh abadi manusia, yakni setan, yang sangat licik dan bernafsu untuk menggelincirkan manusia.

Maka, jika kita lalui jalan panjang ini secara bersama-sama, bukankah akan terasa lebih ringan? Jika ada yang tergelincir di antara kita, maka akan ada orang lain yang menarik tangannya. Begitu pula jika ada yang tertatih-tatih dan merasa tak sanggup lagi berjalan, maka akan ada orang lain yang menuntunnya. Itulah jamaah.

Wajarlah bila kemudian Rasulullah SAW berkata, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, “Berdua lebih baik daripada sendiri, bertiga lebih baik daripada berdua, berempat lebih baik daripada bertiga, maka hendaklah kalian tetap berjamaah, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku kecuali atas sebuah petunjuk (hidayah).”

Hanya saja, berjamaah tak sekadar bekumpul. Sebab, jika berkumpul tersebut justru tidak membuat kita bersatu, bahkan terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok kecil, maka itu bukanlah jamaah. Ibarat dalam satu masjid, tak boleh kita membuat jamaah baru ketika jamaah yang lain sudah ada.

Hal ini diungkapkan pula oleh Ibnu Taimiyah. Menurutnya, al-Jamaah bertolak belakang dengan kekelompokan atau berkelompok-kelompok. Al-Jamaah adalah bersatunya, bukan berkelompok-kelompoknya.

So, ayo berjamaah, jangan sendirian!

Penulis: Mahladi Murni

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jaga Iman dengan Berbagi Renungan

Mari Mengenal Keong

Pucat Pasi di Tobelo

Berita Tentang Anak dan Etika yang Dilanggar

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image